Pada kenyataannya, dulu hujan deras pernah terjadi di Mars. Meski hingga kini ada bukti keberadaan air di Mars, sekarang hujan tidak lagi turun di sana.
Dilansir laman NASA, peneliti dari Smithsonian Institution dan John Hopkins University Applied Physics Laboratory menunjukan perubahan di atmosfer Mars membuat hujan semakin deras dan berdampak mirip dengan apa yang ada di permukaan bumi.
Tetesan hujan saat Mars baru terbentuk diyakini sangat kecil, mirip seperti embun sehingga tidak mungkin meninggalkan jejak di planet itu.
Penurunan tekanan di atmoser selama berjuta tahun menyebabkan tetesan air membesar dan hujan menjadi cukup berat untuk mengiris tanah dan membentuk kawah dan lembah.
NASA belum lama ini merilis sejumlah cuplikan permukaan Planet Mars. Dalam video yang direkam robot Curiosity, tampak panorama Planet Merah terbentang luas dalam semburat kebiru-biruan, bukan berwarna merah sepenuhnya.
Dengan demikian, penampakan menakjubkan ini jelas menjadi jawaban bagi yang penasaran akan warna asli dari Planet Mars.
Memang, jika dilihat dari luar angkasa, planet memancarkan warna merah terang. Pada kenyataannya, suasana langsung dari dalam planet justru memperlihatkan atmosfer dengan corak biru. Meski warna tanah planet tersebut berwarna merah.
Menurut keterangan yang dilansir Mirror, Selasa (6/2/2018), Curiosity mengabadikan momen ini di wilayah-wilayah Vera Rubin Ridge.
Pencapaian NASA
elama beberapa tahun terakhir, NASA memang sudah fokus dengan penelitian Planet Mars. Salah satu penemuan besarnya adalah kandungan air yang ditemukan sejak September 2015.
Saat itu, MRO mengidentifikasi bukti mineral terhidrasi yang disebut perklorat, yang telah membentuk garis-garis di lereng di permukaan Mars.
"Hal yang paling menarik tentang pengumuman ini adalah kehidupan di Mars memang memungkinkan," kata salah seorang perwakilan NASA, John Grunsfeld pada konferensi pers, seperti dikutip dari CNBC.
Beberapa perklorat dapat menjaga air dari pembekuan, bahkan pada suhu sedingin -94 derajat Fahrenheit. Perklorat itu membentuk garis-garis di lereng Mars selama musim hangat planet ketika suhu naik di atas -10 derajat Fahrenheit. Garis-garis itu disebut Recurring Slope Lineae (RSL), yang kemudian menghilang selama musim dingin.
"Sesuatu menghidrasi garam-garam ini, dan tampaknya berubah menjadi garis-garis tersebut, yang datang dan pergi sesuai dengan musim," ungkap Lujendra Ojha, salah seorang peneliti pada proyek tersebut dalam sebuah pernyataan.
Ini berarti, lanjut Ojha, air di Mars adalah asin, bukan murni. Hal ini masuk akal karena garam menurunkan titik beku air.
Bahkan jika RSL sedikit di bawah tanah, di mana suhunya lebih dingin dari suhu permukaan, garam akan menjaga air dalam bentuk cair dan memungkinkan untuk mengalir menuruni lereng Mars.